Leherku Hampir Menjadi Tumbal – bagian 1

Leherku Hampir Menjadi Tumbal – bagian 1
#real story by me
Pict : google

Edited: atas komentar beberapa teman, saya menyimpulkan bahwa sesuatu itu mungkin bukan hantu, namun jin. Allahu’alam bissawab 🙂 hanya tuhan yang maha tahu.

PERINGATAN: Cerita 100 persen asli, bukan karangan berdasarkan khayalan belaka. Jika kau termasuk orang yang tak percaya hal-hal mistis, segera tinggalkan status ini, karena kau hanya akan menjumpai cerita tentang hal yang tak masuk akal dan tak bisa dipercaya oleh orang-orang yang sok intelektual dan menganggap cerita ini hanyalah fiksi belaka.

Sebenarnya hingga saat ini aku juga masih belum percaya hal-hal mistik, karena aku termasuk orang yang segala sesuatunya lebih mementingkan logika daripada hal di luar nalar. Namun pada kenyataannya, hidupku selalu dipenuhi mistis bahkan hingga saat ini, hingga detik aku menulis cerita ini. Kisah ini di tuturkan oleh ayah dan ibuku, serta cerita2 dari tetangga dahulu yang ikut menjadi saksi dari kejadian2 ini.

Kembali ke 22 tahun yang lalu, saat aku belum dilahirkan dan ibuku baru hamil 9 bulan. Saat itu ibuku baru beberapa bulan mendapat SK sebagai guru SD di sebuah pulau terpencil di Kepulauan Riau. Walaupun menetap di pulau, namun orang tuaku tak tinggal di atas rumah panggung di atas laut seperti kebanyakan penghuni lainnya, mereka hanya di beri ruangan kecil di dalam sekolah yang berada di darat. Diruang itulah orang tuaku tidur, makan, dan memasak. Saat malam tiba mereka hanya ditemani lampu minyak yang membuat hidung hitam. Mirisnya lagi, sekolah tersebut berada di dekat hutan yang lebat, dan mereka terkadang di ganggu ‘sesuatu’ di sekolah sekaligus rumah bagi mereka tersebut.

Suatu siang, ayahku pergi ke hutan belakang membawa sebuah kapak untuk memotong kayu. Ia masuk lumayan jauh ke dalam hutan. Saat lelah, ayahku duduk di samping sebuah pohon yang sangat besar. Ia menancapkan kapaknya di bagian bawah pohon. Setelah lelahnya berkurang, ia mengambil kapaknya, tapi kapak itu tak lagi di tempatnya. Hilang.

Setelah melihat ke sekitar, ternyata kapak itu telah berpindah ke atas. Sekitar 1 meter di atas dari tempat semula. Ayahku tipikal orang yang mudah marah, setelah melihat kapaknya berpindah tempat, ia berteriak kencang.

“Woi jangan main-main sama aku kau. Siapa yang mindahin kapak aku ha? Kurang ajar kali kau. Keluar sini kau setan!”

Kira2 seperti itu inti dari teriakan ayahku, mungkin tak persis seperti itu karena aku hanya mendengar ceritanya dari ayahku.

Setelah mengumpulkan kayu-kayu yang dibutuhkannya, ayahku segera kembali ke sekolah, karena sebenarnya ia juga takut dengan kejadian aneh tersebut.

Sayangnya setelah hari itu, sikap ayahku mulai berubah. Ia berperilaku aneh dan menakutkan. Misalnya saja, ia sengaja memerangkap tikus dan setelah terkumpul 4 tikus, ia membungkusnya hidup2 dan membawa tikus2 tersebut beserta sebuah pisau ke hutan. Saat ditanya untuk apa, ia hanya berkata mau membunuh tikus, biar sekolah bersih. Karena curiga, ibuku meminta Alian, seorang nelayan untuk membuntuti ayahku. Ternyata ayahku pergi ke pohon dimana dulu ia menancapkan kapaknya. Disana ia mengambil tikus itu satu persatu, lalu menggorok lehernya dan menebarkan darahnya di bawah pohon. Ia melakukan itu seraya mengucapkan bahasa China, padahal ayahku tak bisa berbahasa China.

Hari demi hari berlanjut, sikap ayahku semakin aneh dan kadang seperti tak mengenal ibuku. Ia sering marah-marah dan membanting bangku sekolah. Hal itu membuat ibuku ketakutan.

Malam itu ibuku tengah tertidur, tak menyadari bahwa ayahku telah mengumpulkan seluruh baju mereka dan meletakkannya di sudut ruangan. Ibuku terbangun saat mencium bau gosong dan spontak berteriak melihat ayah telah membakar seluruh pakaian. Api sangat besar hingga hampir mengenai mereka berdua. Ibu berteriak memanggil tetangga yang tinggal di pantai, ia semakin ketakutan saat ayah berusaha menariknya mendekati api. Ayah berusaha untuk membakar ibu hidup-hidup.

Akhirnya ada tetangga yang datang dan berusaha menolong ibu, tangisan ibu dan tetangga wanita serta gejolak api mewarnai malam itu. Setelah pak Sanusi serta warga lain berhasil memadamkan api, ayahku mengamuk kembali dan mulai membanting2 barang yang hanya sedikit, karena tak bisa ditenangkan, akhirnya mereka sepakat untuk mengikatnya saja. Ia marah2, berteriak dalam bahasa China. Akhirnya ibuku diminta untuk tidur di rumah buk Dai istri dari pak Sanusi. Sementara beberapa bapak2 menjaga ayahku hingga tenang dan normal kembali.

Karena takut dan waktu bersalin semakin dekat, ibuku pun menyetujui ajakan istri kepala sekolah untuk tinggal sementara di rumah mereka yang berada di kota dan dekat dengan rumah sakit. Ayahku pun juga ikut karena ibu tak tega meninggalkan sendiri.

Pak Yusuf dan istrinya membantu mereka dengan meminjamkankan baju2 yang masih layak dipakai. Untung saja tas berisi baju2 baru untukku tak ikut dibakar oleh ayah. Karena sikap ayahku semakin aneh, ibu mengikuti saran pak Yusuf untuk membawa ayah mendatangi orang pintar.

Akhirnya diketahui bahwa ayah telah membunuh anak hantu china yang berada di pohon tersebut, ibu hantu itu marah dan memindahkan kapak ke atas. Namun, setelah mengetahui kapaknya berpindah tempat, bukannya meminta maaf ke penghuni hutan, ayahku malah bersikap congak dan berteriak tak sopan disana. Hal itu membuat sang hantu china semakin marah dan mengikuti ayahku pulang.

Pak yusuf meminta orang pintar itu menyuruh sang hantu pergi dari tubuh ayah, namun ternyata hantu china itu meminta tumbal. Ia mengetahui bahwa ibu tengah hamil anak perempuan, dan meminta ibuku menumbalkan leherku dan menumpahkan darahnya di pohon tersebut. Tentu saja ibuku menolaknya.

Akhirnya hari kelahiranku tiba, setelah sekali mengizinkan ayah menggedong dan mengazaniku, ibu tak pernah lagi membiarkan ayah mendekatiku, sebisa mungkin ia menjauhiku dari ayah. Hingga seminggu setelah kelahiranku, ayah mendatangi kami yang berada di kasur, sikapnya sangat biasa dan normal, karena itu ibu mengizinkannya menggendongku.

Ayah menimangku dan mengayunkan dengan penuh kasih sayang, ia mengucapkan anakku berulang kali. Tanpa disangka ayunan semakin keras, dan mendadak ayah membalikkan tubuhku dan menghempaskanku ke kasur dengan sangat keras. Ibu berteriak histeris memanggil pak Yusuf dan segera menggendongku yang tengah menangis keras.

Hari itu juga mereka kembali membawa ayah ke tempat orang pintar itu, dan bertanya cara menolong ayah tanpa menumbalkanku. Akhirnya ia berkata bisa asal memenuhi syarat sang hantu. Si hantu meminta 2 ekor ayam hitam yang benar2 murni berwarna hitam, 2 ayam itu harus di sembelih dan darahnya ditumpahkan di pohon tempat ayah menancapkan kapaknya.

Kisahku saat bayi hanya kuketahui sampai disitu, mulai saat itu hingga beberapa tahun kemudian, mereka mengganggap semua telah berakhir dan hantu cina itu tak lagi mengikuti ayah.

Ternyata mereka salah.

Sesuatu yang lebih mengerikan terjadi saat aku kelas 2 SMP.

Kisah itu mungkin akan kuceritakan kepadamu jika kau menginginkannya, mungkin juga tidak. Hanya pesanku, jangan takabur dan berkata sembarang terhadap hal2 seperti itu. Jagalah sikap saat berada di hutan. Kita tak pernah tahu kalau ternyata juga ada kehidupan lain disana.

Berhati-hatilah.

Source: https://goo.gl/qBP5B9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s