Leherku Hampir Menjadi Tumbal – bagian 2

Hadiah yang Mengerikan
#real story by me
Pict : google

Walaupun aku adalah seseorang yang lebih suka berfikir logis, tapi aku tak bisa menyangkal bahwa hidupku selalu diliputi hal mistis, bahkan semenjak aku masih bayi.

Semenjak kejadian jin cina tersebut, sekolah akhirnya mengusahakan rumah dinas untuk ibu. Namun, rumah baru tak berarti hidup baru. Karena rumah tersebut tak jauh dari sekolah, kami kerap kali mengalami hal aneh. Yang akan sangat panjang sekali bila diceritakan.

Salah satu hal yang dulu sempat menggemparkan penghuni pulau kami, yaitu sms merah. Yaitu sebuah sms dari nomor tak dikenal yang berwarna merah. Sms tersebut konon bisa menyebabkan kematian bagi orang yang membacanya. Untung saja saat itu keluargaku belum memiliki hp, dan lagipula sinyal di pulau itu juga sangat lemah. Orang2 yang memiliki hp saat itu hanyalah toke2 China dan orang-orang kaya.

Suatu hari, warga histeris mendatangi rumah seorang toke bernama King We, beredar kabar bahwa ia pingsan setelah mendapatkan sms merah tersebut, namun setelah hp nya diperiksa lagi, sms itu sudah menghilang.

Teror tak kalah menggemparkan warga lainnya yaitu penebuk. Entah apa istilahnya di daerah kalian, penebuk ini adalah orang2 sakti yang bisa tak kasat mata dan mengambil kepala anak-anak, kononnya kepala-kepala itu digunakan untuk membangun sebuah jembatan. Kabar itu membuat seluruh penghuni pulau ketakutan dan tak ada yang berani membiarkan anak-anaknya keluar rumah. Apalagi tersiar kabar kalau penebuk tersebut bersembunyi di hutan belakang rumahku karena di kejar dan dicari warga. Mengerikan.

Lupakan masa SD ku, kita beralih ke masa SMP. Sebenarnya aku tidak bersekolah di SMP, melainkan mondok di sebuah pesantren. Bernama MTS Madani. Disini juga terdapat banyak keanehan seperti anak putri melihat kera bermata merah di hutan, anak putra melihat cewek tak berjilbab malam2 di bangku luar, satu asrama mendengar suara tangisan cewek yang tak diketahui asal suaranya,wanita yang menghuni wc putra, sampai uji nyali yang melibatkan pembukaan mata batin.

Namun ada 1 kejadian yang sangat membekas di hatiku. Saat itu tersiar kabar bahwa ada 2 orang laki2 yang bertanya lokasi MTS kami kepada pemilik kebun buah naga. Entah bagaimana ceritanya, muncullah cerita bahwa mereka ternyata penebuk yang mengincar kami.

Seisi asrama sangat ketakutan, bahkan ustad2 pun meminta kami tidur diluar kamar beramai2, bayangkan saja, tak ada yang berani tidur dikamar masing, karena takut jendelanya di ketuk oleh penebuk.

Dan … Inilah saat yang kalian nantikan, mungkin daritadi kalian bertanya, apa kejadian mengerikan yang terjadi saat aku kelas 2 SMP? Baiklah, akan kuceritakan.

Saat itu libur semester, kami diperbolehkan pulang selama satu bulan. Ayahku yang biasanya menjemputku tak terlihat, digantikan oleh Afdol, tetanggaku.

“Nanti kalau pulang gak usah heran liat bapak ko. Dia rada2,” ujar Afdol di perjalanan.

Sesampainya di rumah, aku akhirnya mengerti maksud ucapan Afdol, ayah kesurupan lagi.

“Ranti anak bapak pulang, Sini Ranti,hehehe,” bapak berbicara seperti itu, namun dengan ekpresi yang menakutkan. Ia menyeringai dan terkekeh gak jelas. Ia memaksaku untuk menyalaminya, dan memukul2 pundakku dengan keras. Adik2ku tak ada yang berani mendekatinya.

Aku bertanya kepada ibu, apa yang terjadi dengan ayah. Ternyata ayah telah mengikuti ajaran yang salah, entah ajaran apa yang dianutnya, yang jelas, ada sesuatu yang mengikutinya.

Ayah ditinggalkan sendiri di kamar, ia selalu memanggil namaku, akhirnya aku memberanikan diri membawakannya semangka.

“Makan ini pak,” bujukku, ayah terkekeh mengerikan seraya membuka mulut, namun semangka yang digigitnya selalu keluar lagi, berbarengan dengan lendir hitam. Mulutnya belepotan dan matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan.

Sebenarnya saat itu aku sangat takut dan kasihan dengannya, namun aku tak berhenti menyuapkan makanan itu kemulutnya.

Siang itu, ibu memanggil seorang ustad ke rumah, dan anehnya ayahku mendadak bersikap biasa, bahkan membicarakan agama dengan pak ustad tersebut. Lama kelamaan ayah mulai merintih kesakitan. Ternyata pak ustad tersebut memegangi kepalanya. Pak ustad itu bertanya dimana yang sakit, ayahku berteriak2 menyebutkan kaki. Pak ustad pun memegang kaki ayah seraya komat kamit membaca ayat2. Lendir2 hitam semakin banyak keluar dari mulut ayah. Setelah pak ustad melepaskan tangannya, ayah terlihat sangat lemas dan tergeletak di lantai. Pak ustad meminumkan segelas air dan meminta ibu membantu memandikan ayah.

Malamnya, kami mengunci pintu dan mengurung diri di kamar sebelah, takut ayah kumat lagi. Namun ayah yang sendirian tak henti2 memanggil namaku.

“Ranti, Ranti. Sini la.” panggilnya. Mungkin karena aku takut merespon, ayah mulai menangis sesegukan. Karena kasihan, aku meminta izin kepada ibu untuk menemani ayah. Ternyata ayah duduk di depan kamarnya memakai sebuah kopiah. Aku mendekatinya dan duduk disampingnya, terdiam memperhatikannya yang tengah menangis. Mendadak ayah melemparkan kopiah yang dikenakannya, dan mulai menarik2 gorden. Ia menyanyi tak jelas seraya memutar2 tangannya. Ibu yang panik segera memanggilku masuk ke kamar.

Ibu memberiku kunci rumah dan menyuruh minta tolong seseorang untuk mengunci pintu rumah dari luar, ia juga menyuruhku membawa adik2 ku ke rumah tetangga. Aku membantu adikku yang SD turun dari jendela dan menggendong adikku yang masih balita, membawa mereka ke rumah tetangga. Ibuku juga turun lewat jendela dan berteriak meminta tolong di jalan, ia berlari menuju rumah pak Hafidz yang juga seorang ustad. Di rumah tetangga, aku menceritakan apa yang terjadi dan memina tolong mengunci pintu rumah dari luar, takut ayahku keluar rumah dan mengamuk di jalan.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi di sana, berdasarkan cerita tetangga, ayahku mengamuk di kamar mandi, ia memukul2 drum dan mengguyur tubuhnya sendiri. Tingkahnya berubah-ubah, kadang menangis, tertawa, berteriak dan ngomel2.

Setelah beberapa jam kemudian, ibu menjemput kami, dan aku melihat kondisi ayah yang sangat menggenaskan. Bahkan aku hampir menangis saat mengingatnya. Tangan dan kaki ayah dirantai di kasur, tubuhnya lebam2 bekas pukulan, bajunya basah dan penuh lendir hitam. Aku menangis melihat keadaannya.

Haruskah ia dipukuli karena mengamuk? Haruskah ia dirantai seperti hewan peliharaan? Entahlah, aku tak bisa bersuara karena saat itu aku hanyalah anak SMP yang tak berhak menentang itu.

Ternyata beberapa bulan sebelumnya ayah mempelajari islam lebih dalam, sayang ayahku berguru kepada orang yang salah, ajaran itu malah seperti menjunjung hal gaib. Dan sesuatu yang mengikuti ayah tersebut adalah hadiah dari gurunya.

Hingga saat ini aku tak tahu apakah jin tersebut sudah benar2 hilang atau belum, namun terkadang ayah masih bersikap aneh, seperti tiba2 mendadak begitu alim, minggu berikutnya emosinya seperti meledak2, dan terkadang ia juga hanya diam, memandangi kami tanpa berkata apa-apa.

Hanya Allah yang maha tahu segalanya 🙂

NB: Btw, namaku Silvia Laranti, dan dikeluarga dipanggil Ranti.

Source: https://goo.gl/OdndEE

Advertisements

Leherku Hampir Menjadi Tumbal – bagian 1

Leherku Hampir Menjadi Tumbal – bagian 1
#real story by me
Pict : google

Edited: atas komentar beberapa teman, saya menyimpulkan bahwa sesuatu itu mungkin bukan hantu, namun jin. Allahu’alam bissawab 🙂 hanya tuhan yang maha tahu.

PERINGATAN: Cerita 100 persen asli, bukan karangan berdasarkan khayalan belaka. Jika kau termasuk orang yang tak percaya hal-hal mistis, segera tinggalkan status ini, karena kau hanya akan menjumpai cerita tentang hal yang tak masuk akal dan tak bisa dipercaya oleh orang-orang yang sok intelektual dan menganggap cerita ini hanyalah fiksi belaka.

Sebenarnya hingga saat ini aku juga masih belum percaya hal-hal mistik, karena aku termasuk orang yang segala sesuatunya lebih mementingkan logika daripada hal di luar nalar. Namun pada kenyataannya, hidupku selalu dipenuhi mistis bahkan hingga saat ini, hingga detik aku menulis cerita ini. Kisah ini di tuturkan oleh ayah dan ibuku, serta cerita2 dari tetangga dahulu yang ikut menjadi saksi dari kejadian2 ini.

Kembali ke 22 tahun yang lalu, saat aku belum dilahirkan dan ibuku baru hamil 9 bulan. Saat itu ibuku baru beberapa bulan mendapat SK sebagai guru SD di sebuah pulau terpencil di Kepulauan Riau. Walaupun menetap di pulau, namun orang tuaku tak tinggal di atas rumah panggung di atas laut seperti kebanyakan penghuni lainnya, mereka hanya di beri ruangan kecil di dalam sekolah yang berada di darat. Diruang itulah orang tuaku tidur, makan, dan memasak. Saat malam tiba mereka hanya ditemani lampu minyak yang membuat hidung hitam. Mirisnya lagi, sekolah tersebut berada di dekat hutan yang lebat, dan mereka terkadang di ganggu ‘sesuatu’ di sekolah sekaligus rumah bagi mereka tersebut.

Suatu siang, ayahku pergi ke hutan belakang membawa sebuah kapak untuk memotong kayu. Ia masuk lumayan jauh ke dalam hutan. Saat lelah, ayahku duduk di samping sebuah pohon yang sangat besar. Ia menancapkan kapaknya di bagian bawah pohon. Setelah lelahnya berkurang, ia mengambil kapaknya, tapi kapak itu tak lagi di tempatnya. Hilang.

Setelah melihat ke sekitar, ternyata kapak itu telah berpindah ke atas. Sekitar 1 meter di atas dari tempat semula. Ayahku tipikal orang yang mudah marah, setelah melihat kapaknya berpindah tempat, ia berteriak kencang.

“Woi jangan main-main sama aku kau. Siapa yang mindahin kapak aku ha? Kurang ajar kali kau. Keluar sini kau setan!”

Kira2 seperti itu inti dari teriakan ayahku, mungkin tak persis seperti itu karena aku hanya mendengar ceritanya dari ayahku.

Setelah mengumpulkan kayu-kayu yang dibutuhkannya, ayahku segera kembali ke sekolah, karena sebenarnya ia juga takut dengan kejadian aneh tersebut.

Sayangnya setelah hari itu, sikap ayahku mulai berubah. Ia berperilaku aneh dan menakutkan. Misalnya saja, ia sengaja memerangkap tikus dan setelah terkumpul 4 tikus, ia membungkusnya hidup2 dan membawa tikus2 tersebut beserta sebuah pisau ke hutan. Saat ditanya untuk apa, ia hanya berkata mau membunuh tikus, biar sekolah bersih. Karena curiga, ibuku meminta Alian, seorang nelayan untuk membuntuti ayahku. Ternyata ayahku pergi ke pohon dimana dulu ia menancapkan kapaknya. Disana ia mengambil tikus itu satu persatu, lalu menggorok lehernya dan menebarkan darahnya di bawah pohon. Ia melakukan itu seraya mengucapkan bahasa China, padahal ayahku tak bisa berbahasa China.

Hari demi hari berlanjut, sikap ayahku semakin aneh dan kadang seperti tak mengenal ibuku. Ia sering marah-marah dan membanting bangku sekolah. Hal itu membuat ibuku ketakutan.

Malam itu ibuku tengah tertidur, tak menyadari bahwa ayahku telah mengumpulkan seluruh baju mereka dan meletakkannya di sudut ruangan. Ibuku terbangun saat mencium bau gosong dan spontak berteriak melihat ayah telah membakar seluruh pakaian. Api sangat besar hingga hampir mengenai mereka berdua. Ibu berteriak memanggil tetangga yang tinggal di pantai, ia semakin ketakutan saat ayah berusaha menariknya mendekati api. Ayah berusaha untuk membakar ibu hidup-hidup.

Akhirnya ada tetangga yang datang dan berusaha menolong ibu, tangisan ibu dan tetangga wanita serta gejolak api mewarnai malam itu. Setelah pak Sanusi serta warga lain berhasil memadamkan api, ayahku mengamuk kembali dan mulai membanting2 barang yang hanya sedikit, karena tak bisa ditenangkan, akhirnya mereka sepakat untuk mengikatnya saja. Ia marah2, berteriak dalam bahasa China. Akhirnya ibuku diminta untuk tidur di rumah buk Dai istri dari pak Sanusi. Sementara beberapa bapak2 menjaga ayahku hingga tenang dan normal kembali.

Karena takut dan waktu bersalin semakin dekat, ibuku pun menyetujui ajakan istri kepala sekolah untuk tinggal sementara di rumah mereka yang berada di kota dan dekat dengan rumah sakit. Ayahku pun juga ikut karena ibu tak tega meninggalkan sendiri.

Pak Yusuf dan istrinya membantu mereka dengan meminjamkankan baju2 yang masih layak dipakai. Untung saja tas berisi baju2 baru untukku tak ikut dibakar oleh ayah. Karena sikap ayahku semakin aneh, ibu mengikuti saran pak Yusuf untuk membawa ayah mendatangi orang pintar.

Akhirnya diketahui bahwa ayah telah membunuh anak hantu china yang berada di pohon tersebut, ibu hantu itu marah dan memindahkan kapak ke atas. Namun, setelah mengetahui kapaknya berpindah tempat, bukannya meminta maaf ke penghuni hutan, ayahku malah bersikap congak dan berteriak tak sopan disana. Hal itu membuat sang hantu china semakin marah dan mengikuti ayahku pulang.

Pak yusuf meminta orang pintar itu menyuruh sang hantu pergi dari tubuh ayah, namun ternyata hantu china itu meminta tumbal. Ia mengetahui bahwa ibu tengah hamil anak perempuan, dan meminta ibuku menumbalkan leherku dan menumpahkan darahnya di pohon tersebut. Tentu saja ibuku menolaknya.

Akhirnya hari kelahiranku tiba, setelah sekali mengizinkan ayah menggedong dan mengazaniku, ibu tak pernah lagi membiarkan ayah mendekatiku, sebisa mungkin ia menjauhiku dari ayah. Hingga seminggu setelah kelahiranku, ayah mendatangi kami yang berada di kasur, sikapnya sangat biasa dan normal, karena itu ibu mengizinkannya menggendongku.

Ayah menimangku dan mengayunkan dengan penuh kasih sayang, ia mengucapkan anakku berulang kali. Tanpa disangka ayunan semakin keras, dan mendadak ayah membalikkan tubuhku dan menghempaskanku ke kasur dengan sangat keras. Ibu berteriak histeris memanggil pak Yusuf dan segera menggendongku yang tengah menangis keras.

Hari itu juga mereka kembali membawa ayah ke tempat orang pintar itu, dan bertanya cara menolong ayah tanpa menumbalkanku. Akhirnya ia berkata bisa asal memenuhi syarat sang hantu. Si hantu meminta 2 ekor ayam hitam yang benar2 murni berwarna hitam, 2 ayam itu harus di sembelih dan darahnya ditumpahkan di pohon tempat ayah menancapkan kapaknya.

Kisahku saat bayi hanya kuketahui sampai disitu, mulai saat itu hingga beberapa tahun kemudian, mereka mengganggap semua telah berakhir dan hantu cina itu tak lagi mengikuti ayah.

Ternyata mereka salah.

Sesuatu yang lebih mengerikan terjadi saat aku kelas 2 SMP.

Kisah itu mungkin akan kuceritakan kepadamu jika kau menginginkannya, mungkin juga tidak. Hanya pesanku, jangan takabur dan berkata sembarang terhadap hal2 seperti itu. Jagalah sikap saat berada di hutan. Kita tak pernah tahu kalau ternyata juga ada kehidupan lain disana.

Berhati-hatilah.

Source: https://goo.gl/qBP5B9

Cerita lampor

Lampor

Ada sebuah urban legend yang terkenal di desaku pada waktu itu. Sebuah desa yang masuk di wilayah Kabupaten Semarang ini memang memiliki urban legend yang menurutku cukup menyeramkan.

Tahun 2004, aku dan keluargaku pindah di desa ini. Desa ini menyuguhkan panorama Gunung Merbabu yang bisa aku lihat tepat di depan rumahku saat ini.

Pada waktu itu, keadaan di desa ini sedikit menyeramkan. Menurut penuturan penduduk asli desa ini, jika ada kabut yang datang setelah atau sebelum hujan, maka akan ada sosok makhluk halus yang disebut Lampor. Jujur saja, aku tak terlalu paham dengan apa itu Lampor.

Konon, Lampor adalah sosok makhluk halus yang muncul di antara kabut, baik setelah atau sebelum hujan. Wujudnya seperti bayangan hitam atau seperti orang yang memakai jubah hitam. Terbang di angkasa secara cepat.

Dikisahkan, Lampor sering memangsa anak kecil. Lampor akan menyembunyikan mereka sebagai korban. Mereka yang diculik oleh Lampor sangat sukar untuk ditemukan. Terkadang ada yang mampu kembali lagi, namun terkadang juga kebalikannya.

Aku yang masih kecil pada saat itu memang belum terlalu paham. Namun, aku diberi nasihat agar tetap berada di dalam rumah ketika cuaca mendung datang apalagi sampai berkabut. Tutup semua pintu dan jendela.

***

Suatu sore yang mendung, aku masih berada di luar rumah. Mendung kian pekat hingga tanpa ku sadari kabut mulai melekat juga. Aku masih asyik bermain di luar rumah kala itu.
Tanpa sengaja, aku melihat sosok bayangan hitam yang berterbangan di angkasa. Sungguh, aku benar-benar tidak menaruh curiga sama sekali. Sampai akhirnya aku tersadar dengan salah satu ucapan tetanggaku bahwa ciri-ciri itu adalah Lampor.
Sontak, aku langsung meninggalkan permainanku. Aku segera masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu serta jendela.
Aku takut. Aku di rumah sendiri kala itu. Aku langsung menuju kamarku dan menarik selimut untuk meredam ketakutanku hingga aku tertidur.

Orang tuaku sudah pulang ke rumah, namun aku tak menceritakan kejadian ini.

“Untung saja, aku selamat.” Batinku.

Sejak kejadian itu, aku memang sedikit takut dengan suasana berkabut.

Source: https://goo.gl/1KCroh